Jumat, 29 April 2011

TNI AD Uji Coba Meriam 105mm KH-178

Surabaya - Bentrok antara aparat TNI dengan warga di Kebumen, Jawa Tengah yang dipicu penolakan uji coba Alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) milik TNI AD berupa meriam Howitser, berdampak pada pengalihan lokasi pengujiannya.

Mabes TNI AD kemudian memutuskan untuk memindahkan lokasi uji coba dari Kebumen ke kawasan Air Shooting Range (lapangan tembak udara) di wilayah Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Lumajang.






Meriam KH 178
Uji coba ini sendiri dilaksanakan, Selasa (19/4/2011) siang, yang dihadiri sejumlah Perwira Tinggi dari Mabes TNI AD di Jakarta bersama sejumlah konsultan Alutsista yang terbang langsung ke kawasan air shooting range Desa Pandanwangi, dengan menggunakan sebuah helikopter milik TNI AD.

Dalam rombongan Perwita Tinggi Mabes TNI AD ini, terdapat Asisten Operasional (ASOPS) KSAD Mayjend Hariyadi Soetanto bersama Panglima Divisi 2 Kostrad, Asrena KSAD. Wadan Pusen Armed dan sejumlah konsultan dalam negeri yang menghubungkan dengan pabrik alutsista di Korea Selatan yang khusus mendatangkan meriam Howitser keliber 105 yang diuji-cobakan kali ini.

Dalam uji coba ini, Mayjend Hariyadi Soetanto kepada detiksurabaya.com menyampaikan, pemilihan areal Air Shooting Range di Desa Pandanwangi ini, dipilih karena memang merupakan daerah latihan untuk dicoba untuk senjata.

”Yang ideal memang uji coba meriam Howitser yang baru kami datangkan dari Korea Selatan ini dilaksanakan di sini. Kalau di Kebumen, jangkauan tembaknya tidak mencapai jarak ideal 11,8 kilometer. Tadinya memang mau diuji-cobakan di Kebumen, tapi jaraknya tidak sampai. Sedangkan kalau di lapangan tembak Pandanwangi, bisa mencapai jarak ideal 11,8 kilometer,” bebernya.

Dikatakan lebih lanjut oleh ASOPS KSAD ini, alutsista jenis Howitser 105 yang diberi dari Korea Selatan ini berjumlah 18 pucuk. Sedianya yang di ujicobakan di kawasan Air Shooting Range Desa Pandanwangi, sebanyak 6 pucuk yang dipilih secara random.

”Setelah nanti dipastikan semuanya telah di ujicobakan dan berfungsi baik, maka akan ditempatkan sebagai alutsista untuk Armed Kostrad di Purwakarta. Selanjutnya, TNI AD akan mengembangkan penambahan meriam Howitser dari Korea Selatan ini, sampai jumlah keseluruhan 54 pucuk,” urai Mayjend Hariyadi Soetanto.

Dalam ujicoba meriam Howitser yang dilajksanakan di areal tertutup untuk umum ini, dinyatakan ASOPS KSAD berjalan bagus.

”Tadi uji-cobanya bagus. Amat sangat layak untuk kemudian ditindaklanjuti sebagai bagian untuk memenuhi Alutista Angkatan Darat. Tadi, 78 butir peluru kaliber 105 yang ditembakkan dari meriam Howitser yang didatangkan dari Korea Selatan. Akurasinya bagus, dan berkisar antara 21 meter saja. Dan untuk tembakan armed itu sangat bagus. Sejauh ini memang ada kerjasama dengan Korea Selatan. Untuk alutsista TNI AD, 18 pucuk dengan keseluruhan 54 pucuk meriam dari Korea Selatan ini,” sambungnya.

Seputar insiden bentrok antara aparat TNI AD dengan warga di Kebumen, Mayjend Hariyadi Soetanto berpendapat, sangat mungkin dalam peristiwa itu ada kelompok-keompok tertentu yang mempunya kepentingan hingga menyebabkan bentrokan tersebut terjadi. ”Kan wilayah itu tanah TNI AD. Tapi, saya tidak begitu tahu siapa orang atau kelompok-kelompok itu,” pungkas Mayjend Hariyadi Soetanto.

(Sumber : DetikNews.Com)

Sukses, TNI AL Ujicoba Rudal Yakhont

JAKARTA , Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Tri Prasodjo, menjelaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan ribuan pulau dan sumber daya alam laut yang melimpah sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Rudal Yakhont diluncurkan dari KRI Oswald Siahaan
Kondisi ini berakibat pada potensi datangnya ancaman melalui laut sangat besar, sehingga dapat mengganggu kedaulatan dan keutuhan NKRI. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan kemampuan dan kekuatan pertahanan negara yang handal untuk menjaga tegaknya NKRI. Berkaitan dengan kondisi tersebut, dalam rangka menjaga kedaulatan dan mempertahankan tegaknya NKRI, maka diperlukan langkah-langkah yang antisipatif dengan mempersiapkan semua elemen bangsa termasuk TNI Angkatan Laut.
TNI AL sebagai salah satu alat pertahanan negara dituntut untuk berperan aktif dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan Indonesia serta melindungi seluruh warga negara. Hal demikian sesuai dengan tugas TNI AL sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004. Dalam rangka mencapai keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut, diperlukan adanya latihan secara bertingkat dan berjenjang untuk meningkatkan profesionalisme dan naluri tempur prajurit serta kesiapan operasional Alutsista.
Berkaitan dengan hal tersebut, Rabu (20/4) dilaksanakan uji coba penembakan beberapa jenis senjata strategis terbaru yang dimiliki oleh TNI AL di perairan Samudera Hindia, yang rencananya akan disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat TNI dari atas KRI Surabaya.
Uji coba penembakan beberapa rudal tersebut selain untuk mengetahui kehandalan, akurasi perkenaan sasaran dan daya hancur yang ditimbulkan juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan unsur-unsur TNI AL dalam melaksanakan operasi tempur laut. Untuk itu bersamaan dengan pelaksanaan uji coba penembakan rudal tersebut, sekaligus dilaksanakan pula serangkaian latihan tempur laut yang melibatkan beberapa kapal perang dan pesawat udara berbagai jenis.
Sejumlah senjata strategis yang ditembakan antara lain peluru kendali (Rudal) Yakhont ditembakkan oleh KRI Oswald Siahaan-354 (jenis Perusak Kawal Rudal/PKR kelas Fregat Vanspeijk) dengan sasaran eks KRI Teluk Bayur-502 (Landing Ship Tank) pada jarak kurang lebih 135 mil laut atau sekitar 250 km. Sedangkan Rudal Exocet MM 40 dan Rudal penangkis serangan udara Mistral diluncurkan KRI Sultan Hasanuddin-366 (jenis PKR kelas Korvet Sigma atau Sigma Class), dan Sea Cat dilepaskan oleh KRI Karel Satsuitubun-356 (PKR Kelas Fregat Van Speijk).
Selain itu juga kapal selam KRI Cakra-401 akan menembakan Torpedo Sut, sementara KRI Cut Nyak Dien-375 (Perusak Kawal Kelas Korvet Parchim) memuntahkan roket anti kapal selam RBU-6000. Kegiatan tersebut didukung dua unit pesawat Cassa patroli maritim dan empat helly .
Data-data Rudal:
a. Yakhont :
1) Negara pembuat : Rusia
2) Kecepatan Terbang : Kurang lebih 2 mach
3) Jangkauan tembak 300 km
4) Ketinggian terbang 14.000 m
5) Waktu yang dibutuhkan untuk siap tembak 4 menit
6) Daya ledak 300 kg
7) Sudut penembakan kurang lebih 90 derajat
8) Panjang 8.900 mm
9) Diameter : 720 mm
10) Berat :
a) Berat Warhead : 200 kg
b) Berat Rudal 3.000 KG
c) Berat dengan canister : 3.900 kg
11) Peralatan pendorong : Supersonic ramjet, fuel kerosene T-6
12) Isian sistem pendorong : Bahan bakar padat

b. Exocet MM-40 :
a) Negara Pembuat : MBDA Prancis
b) Maximum range 70 km
c) Minimum range 5 km
d) Kecepatan 0,9 Mach
e) Medel Peluncuran : Single Shot or salvo
f) Launching Sector : 30 %
g) Wind speed : <15 m/s
h) Panjang 5950 mm
i) Lebar sayap 1135 mm
j) Diameter 350 mm
k) Kepala rudal 155 kg
l) Tahun produksi 1990

c) Torpedo SUT

a) Panjang 6150 mm
b) Berat 1423,6 kg
c) Diameter 534 mm
d) Kecepatan pencarian sasaran 18 knot
e) Jarak capai pencarian sasaran 26 km
f) Kemampuan kedalaman 2 – 404 m
g) Radius putar 60 m.

d. Mistral
1) Mistral 1
a) Berat 18,7 kg
b) Lebar 186 cm
c) Diameter 90 mm
d) Berat Hululedak 3 kg
e) Kecepatan 2,5 mach
f) Altitude 3000
g) Negara Pembuat : Prancis

1) Mistral 2
a) Berat 18,7 kg
b) Panjang 1.810 mm
c) Kaliber 92 mm
d) Kecepatan 2,5 mach
e) Berat hululedak 3 kg
f) Jarak Maximum 6500 mm
g. Negara Pembuat : Prancis

e. Sea Cat
1) Jarak Maximum 5200 m
2) Kecepatan 0,8 mach
3) Panjang 1,48 m
4) Diameter 19 cm
5) Hululedak : Berdaya ledak tinggi

f. RBU 6000
1) Kaliber 213 mm
2) Jumlah peluncur : 2 menara
3) Jumlah tabung : 12 tabung
4) Jarak tembak 5500 m
5) Berat Bahan peledak 23 kg
6) Kedalaman maximum 1000 m
7) Sistem penembakan : Remote dengan Burya
8) Sistem pelemparan : Elektrik
9) Sistem Loading : Hidrolik

(Sumber : Pos Kota)

Kamis, 14 April 2011

TNI AU Beli T 50 Golden Eagle

JAKARTA, TNI Angkatan Udara akan merealisasi pembelian satu skuadron pesawat T50 Golden Eagle dari Korea Selatan pada tahun depan. Pesawat latih tempur itu untuk meningkatkan kemampuan pengendalian pesawat tempur para penerbang TNI AU. 

"Seluruhnya 16 pesawat," ujar Kepala Staf TNI AU Marsekal Imam Sufaat, usai acara Hari Ulang Tahun TNI AU ke 65 Tahun di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Sabtu 9 April 2011. Imam menambahkan, pengadaan pesawat ini merupakan kebijakan jangka panjang untuk memenuhi kekuatan dasar minimum (minimum essential force) yang direncanakan bisa tercapai pada 2024.

T 50 Golden Eagle
"Kebijakan dari Presiden untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan alutsista khususnya untuk pesawat-pesawat yang berusia diatas 30 tahun," ujarnya. Kebijakan ini diambil karena TNI Angkatan Udara selama ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan suku cadang pesawat yang dimiliki TNI AU, yang sebagian sudah uzur. 

T50 Golden Eagle rencananya akan menggantikan Hawk 53 MK buatan Inggris yang akan segera dipensiunkan. Selain T50, TNI AU juga akan membeli pesawat Super Tucano untuk menggantikan OV-10 Bronco.


Menurut Imam, pengadaan pesawat tersebut sudah masuk dalam anggaran Kementerian Pertahanan. "Proses pengadaan T50 sudah ditetapkan oleh Dephan. Proses pengadaan sudah dimulai," tuturnya.

Untuk membeli satu skuadron T50, pemerintah harus menyiapkan biaya US$ 400 juta. Pesawat rencananya akan mulai dikirim ke Indonesia pada 2012 mendatang. "Normalnya sebenarnya 18 bulan, tapi kami minta perusahaannya untuk mempercepat," ujarnya. 


Imam menambahkan, pesawat T50 cocok untuk latihan pilot pesawat Sukhoi dan memiliki kemampuan mirip F 16. "Jadi sebelum mereka ke Sukhoi, mereka kita latih pakai ini dulu," ujarnya. "Karena kalau latihan pakai Sukhoi cost operasionalnya cukup besar." Selain untuk latihan, pesawat ini bisa digunakan untuk operasi penyerangan ringan.

(Sumber: Tempo Interaktif)

Selasa, 05 April 2011

Rudal C-802 Berhasil Hancurkan Sasaran


Peluncuran Rudal C-802 dari KRI Layang-805 yang bernaung dibawah satuan kapal patroli (Satrol) Koarmatim, merupakan rudal anti kapal permukaan buatan Cina yang mulai diperkenalkan oleh produsennya China Haiying Electro-Mechanical Technology Academy (CHETA). Gambar ini diambil saat aksi tempur laut latihan gabungan TNI 2008 di Sangata Kalimantan Timur yang disaksikan langsung presiden RI.

Peluru kendali buatan negeri Tirai Bambu itu menggunakan tekonologi solid propellant rocket booster sebagai pendorong, dan menggunakan pemandu system inertial dan radar aktif.
KRI Layang menembakan rudal C-802
Peluru kendali dengan panjang 6,383 meter itu merupakan turunan dari rudal pendahulunya yakni YI-8 atau C-801. Yang berbeda dari pendahulunya, rudal Yingji-82 atau YJ-82 alias C-802 terletak pada penggunaan bahan bakar di mesin turbojet-nya.
Jika C-801 menggunakan bahan bakar solid untuk mesin roketnya, maka untuk C-802 menggunakan bahan bakar dari parafin sehingga daya jelajahnya dapat ditingkatkan secara drastis dari 80 kilometer untuk C-801 menjadi 120 kilometer untuk C-802.

Rudal C-802 berdimensi 715 kilogram dan diameter 36 sentimeter itu juga dikenal sebagai rudal yang memiliki kemampuan untuk menghindar dari radar musuh, karena selain dilengkapi perangkat anti-jamming yang terpasang di peralatan pemandunya, rudal ini juga mempunyai kemampuan terbang rendah pada awal diluncurkan yakni 20-30 meter dan turun menjadi 5-7 meter saat akan mendekati sasaran.

Dengan hulu ledak bertekanan tinggi seberat 165 kilogram plus sistem semi-armour-piercing, cukup membuat kapal musuh berpikir dua kali untuk menghadapi rudal C-802 ini.Rudal C-802 mampu menghancurkan sasaran pada jarak 120 km.
Hasil perkenaan dari Rudal C-802 terhadap kapal yang sengaja dijadikan sasaran yaitu Ex KRI Karang Galang hancur dan tenggelam 

(Sumber :Dispenarmatim)

Senin, 04 April 2011

Tank BMP-3F Marinir Uji Coba Embarkasi Ke KRI

BMP 3F

SURABAYA - Tank amphibi BMP-3F yang baru dibeli dari Rusia diuji coba untuk masuk atau embarkasi ke dalam Kapal Perang Republik Indonesia (KRI).


Kapal perang yang ditunjuk untuk mengikuti uji coba adalah KRI Teluk-Penyu 513 dan KRI Surabaya-991 di Dermaga Madura dan Dermaga E, Markas Komando Armatim, Ujung, Surabaya Kamis (23/12) lalu.


Sebagai bagian dari Alutsista TNI AL, tank amphibi BMP-3F harus mengikuti uji coba pendaratan amphibi di Pantai Banongan, Situbondo beberapa waktu yang lalu. Setelah itu, baru diikuti dengan uji coba pelaksanaan embarkasi dan debarkasi atau keluar dan masuk ke KRI.


Uji coba yang berlangsung selama 4 hari di Koarmatim ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para awak tank serta membantu pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh awak KRI. Kedua unsur tersebut merupakan dua tim yang harus bekerjasama menjadi satu agar dapat mencapai sukses dalam setiap pendaratan.


"Tank yang baru dibeli ini lebih canggih dibanding tank amphibi yang kita miliki dulu. Ada beberapa komponen dan kelengkapan yang lebih canggih dan mutakhir sehingga dapat berfungsi ganda di samping angkut pasukan," ujar Kepala Dispenarmatim Letkol Laut Yayan Sugiana dalam rilis yang diterima detiksurabaya.com, Senin (27/12).


Tank amphibi ini dilengkapi dengan satu buah meriam tipe 2a 70 100mm, meriam 2a 72 30mm,. senjata PKTM kaliber 7,62 3 pucuk, dan rudal Arkan yang berfungsi untuk melakukan serangan darat serta udara.


Selain itu, tank yang mampu melaju dengan kecepatan 70 Km/jam ini juga dilengkapi dengan sistem sirkulasi udara (NBC) yang berguna untuk menanggulangi peperangan Nuklir, Biologi dan Kimia (Nubika).


Kelebihan dari tank yang dilengkapi dengan alat komunikasi yang berfungsi di dalam dan luar amphibi ini adalah terdapat sinar inframerah dan teropong bidik sasaran untuk melengkapi jaringan komunikasi tank BMP 3 F ini menggunakan pesawat radio R 173 dengan jarak jangkau maksimum 12 Km.


Sistem kemudi yang menggunakan hydrolik menjadikan tank amphibi mampu melaju dengan kecepatan 10 Km/jam ketika berada di laut. Sementara untuk sistem operasional persenjataan tank yang mampu menampung 10 orang personel yang terdiri dari 7 orang pasukan dan 3 orang awak ini menggunakan sistem manual dan elektrik.


Tank yang dibuat di Kurgan, Rusia tahun 2009 ini termasuk dalam jenis tank Resimen Kavaleri Marinir (Menkav Mar) Batalyon Kavaleri 1 Marinir Karang Pilang, Surabaya berjumlah 17 unit.


(Sumber : Detik Surabaya)

PT. Pindad Kembangkan Tank Ringan

Bandung, PT Pindad (Persero), produsen peralatan militer dan komersial, akan mengembangkan tank ringan mulai 2014 untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan TNI Angkatan Darat.

Direktur Utama Pindad Adik Avianto Soedarsono mengemukakan rencana tersebut merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan panser dan tank TNI AD yang saat ini 90% masih diisi oleh produk asing.
Menurut dia, tank ringan itu akan mengacu pada model dari mancanegara, seperti produk K-21 buatan Doosan DST Korea Selatan dan TUrki. Tank ringan memiliki bobot antara 15-25 ton dengan dua jenis penggerak berupa ban atau rantai. Ada pula tank ringan lainnya yang berbobot lebih dari 25 ton.
K 21
Adik mengatakan harga tank ringan berpenggerak ban sekitar Rp 40 miliar, sedangkan berpenggerak rantai mencapai Rp5O miliar.
"Kami sedang membahas rencana ini dengan pemerintah, TNI AD, danpihak lainnya. Mudah-mudahan rencana pengembangan ini bisa direalisasikan dalam waktu dekat," katanya kemarin.
Dia tidak memerinci kebutuhan tank ringan dari TNI AD karena baru memasuki proses persiapan dan studi.
Adik mengemukakan proses persiapan, termasuk studi dan pengembangan, akan memakan waktu cukup lama.
"Jika pemerintah sudah menyatakan berkomitmen, Pindad segera melakukan serangkaian kerja sama business to business dengan industri pertahanan di luar negeri."
Dia optimistis Pindad mampu mengerjakan proyek pengembangan tank ringan tersebut dengan dukungan penuh pemerintah dalam rangka optimalisasi industri persenjataan strategis, seperti panser dan tank.
Menurut Adik, kemampuan perusahaan telah teruji dalam pengadaan Panser Anoa 6x6 yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan kekuatan TNI AD yang didasarkan pada kekuatan pokok minimum memang memadai dari sisi kuantitas. Akan tetapi, lanjutnya, kondisi alat pertahanan TNI AD itu sangat tidak memadai dari sisi kualitas. "Kondisinya sangat memprihatikan karena anggaran terbatas."
Adik mengatakan salah satu penyebab adalah minimnya sokong- . an anggaran bagi industri pertahanan. Pada kesempatan yang sama, Pindad segera mengerjakan Panser Anoa Tarantula yang teknologinya diserap dari Doosan DST. Panser ini akan dipersenjatai dengan kanon 90 mm buatan Belgia.
Black Fox 6x6 (Tarantula)

Kontrak kerja sama pengadaan kendaraan tempur tersebut sudah dilakukan pada 2009 sebanyak 22 unit. Sebanyak 11 unit built-up , segera tiba dari Doosan DST, sementara 11 unit sisanya dikerjakan oleh Pindad.
"Kami juga mengirim 30 orang pekerja ke sana dalam rangka transfer teknologi. Itu akan dipakai untuk proses pembuatan panser di dalam negeri mulai 2012," katanya. 

(Sumber : Bisnis Indonesia)

Rudal Yakhont Sudah Dipasang Di 16 KRI

Rudal Yakhont




JAKARTA - TNI Angkatan Laut akan menguji sejumlah persenjataan strategisnya. Seperti peluru kendali untuk memastikan kesiapan alat utama sistem persenjataan dan personel matra laut dalam mengantisipasi berbagai ancaman sesuai perkembangan lingkungan strategis yang terjadi.

"Uji persenjataan itu dimaksudkan untuk meningkatkan manajemen pemeliharaan, perawatan, perbaikan yang efektif guna mencapai kesiapsiagaan yang optimal," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di sela-sela rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut (KSAL) 2011 di Jakarta, Selasa (25/1).

Ia menambahkan, salah satu persenjataan strategis yang akan diuji adalah peluru kendali Yakhont buatan Rusia. Beberapa kehandalan Yakhont yang tidak dimiliki rudal antipermukaan TNI-AL sebelumnya adalah Yakhont mempunyai kecepatan maksimum hingga 2,5 Mach. Ditambah lagi Yakhont punya jangkauan tembak sangat jauh, tak tanggung-tanggung 300 kilometer.

"Dua kemampuan tadi yang hingga kini belum dimiliki jajaran rudal antikapal TNI-AL. Yakhont dapat ditembakan dari Surabaya ke sasaran di Yogyakarta," ungkap Kasal.

Seperti diketahui TNI-AL mempunyai rudal Exocet MM30/40, Harpoon dan C802. Tapi di balik itu, Yakhont mempunyai bobot dan dimensi yang terbilang bongsor di kelasnya. Harga satu unit Yakhont ditaksir sekitar 1,2 juta dolar AS.

Saat ini 16 KRI sudah dipasang rudal Yakhont yaitu enam pada kapal jenis fregat dan 10 di kapal perang Korvet. Masing-masing Fregat dipasang delapan unit Yakhont, sedangkan Korvet sebanyak empat unit. Pemasangan dilakukan sepenuhnya oleh PT PAL Surabaya.

KSAL menambahkan, sasaran tembak dari uji coba sejumlah persenjataan strategis itu adalah kapal perang yang tidak lagi digunakan. Uji coba akan dilaksanakan di Samudra Indonesia pada Februari.


Sumber : METROTVNEWS.COM